LAPORAN KEGIATAN MATA KULIAH
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
DI SLB YAKETUNIS DAN PANTI
SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNVERSITAS
PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA
A. Latar
Belakang Kegiatan
Di era sekarang mahasiswa dituntut untuk dapat lebih
aktif dalam menjalankan tri dharma perguruan tinggi, sebagai bentuk
pengaplikasian ilmu yang didapat selama pembelajaraan didalam kelas. Mahasiswa
seharusnya memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar sebagai
bukti bahwa mahasiswa berintegritas dalam ilmu yang didapat.
Salah satu bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah mengunjungi
tempat-tempat yang mendukung program keilmuan yang sedang mereka jalani.
Sebagai contoh dalam mata kuliah psikologi perkembangan 2, mahasiswa diwajibkan
berinteraksi dengan berberapa tahapan usia manusia untuk lebih memahami
perkembangannya.
Untuk dapat memenuhi kegiatan tersebut, kami
mengunjungi dua tempat yang dapat menunjang kegiatan kami tersebut. Pertama,
kami mengunjungi SLB Yaketunis Yogyakarta dan kedua mengunjungi Panti Sosial
Tresna Werdha di Pakem Sleman.
Kegiatan ini akan berlangsung secara periodik dan kami
jalankan sesuai dengan kemampuan maksimal kami. Kegiatan ini juga menjelma
menjadi sebuah jembatan antara kepedulian kami, sebagai mahasiswa terhadap mereka yang membutuhkan dorongan emosi.
B. Tujuan
Kegiatan
1.
Memberikan
motivasi dan semangat untuk terus berprestasi bagi siswa di SLB Yaketunis.
2.
Mengembangkan
empati, rasa cinta kasih dan rasa peduli terhadap lansia dan penyandang
disabilitas.
3.
Untuk
memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan 2.
C. Hasil
Observasi
1. SLB
Yaketunis
a.
Sejarah Singkat Yaketunis
Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam didirikan berdasarkan
Firman Alloh SWT dalam Al-Qur’an Surat ‘Abasa ayat 3 dan 4 yang menjelaskan
bahwa tunanetra memiliki potensi untuk diberikan pendidikan dan pengajaran
dibidang mental, spiritual, agama dan ketrampilan, kecerdasan serta ilmu pengetahuan
sehingga perlu didirikan lembaga atau yayasan sebagai sarana atau wadah untuk
melaksanakan dan mengamalkan ayat tersebut.
Berdirinya Yaketunis merupakan ide dari seorang tunanetra
bernama Supardi Abdusomat. Pada saat itu beliau berkunjung ke Perpustakaan
Islam di Jl. Mangkubumi No. 38 menemui Bapak H. Moch. Solichin Wakil Kepala
Perpustakaan Islam. Kedatangan beliau bermaksud sharing kepada Bapak. H. Moch.
Solichin mengenai bagaimana caranya mengangkat harkat martabat warga tunanetra.
Akhirnya disepakati untuk mendirikan yayasan yang diberi bnama Yayasan
Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta pada tanggal 12 Mei 1964
dengan alamat : Jl. Mangkubumi No. 38 Yogyakarta, Akta Notaris No. 10 Tahun
1964 Notaris: Soerjanto Partaningrat, SH, dengan ijin operasional No.
188/0622/V.I tanggal 16 Maret 2009.
b. Kondisi SLB Yaketunis
saat ini
SLB Yaketunis memiliki banyak fasilitas yang bisa
dimanfaatkan untuk menunjang hidup selayaknya. Misalnya dengan printer braille,
mesin ketik braille, buku braille, hingga Al Qur an braille. Karena fokusnya
khusus menangani tuna netra maka SLB ini memiliki beberapa siswa dari luar
Yogya, seperti Medan dan Makassar.
Mereka tinggal di asrama fasilitas SLB. Suasana
asrama Yaketunis tidak seperti yang dibayangkan kumuh dan kotor namun justru
bersih, tertata rapi, segar. Tunanetra yang berada di asrama terlihat
bercanda-ria dengan tunanetra sebayanya. Terdapat juga siswa yang melanjutkan
kuliah di UGM dan UIN, mereka tinggal di asrama, saat ini menginjak semester 7.
Bangku kuliah memang tidak menyediakan
fasilitas khusus bagi tuna netra, maka satu-satu nya cara adalah proaktif dan
memperbanyak teman.
Pendidikan di SLB Yaketunis meliputi SLB/A, MTs
LB/A, setelah lulus MTs dapat melanjutkan jenjang selanjutnya. Memiliki 32 guru
terdiri dari 25 guru Negeri dan 16 guru Yayasan. Sarana dan prasarana yang
dimiliki adalah asrama/panti, TPA LB – A Yaketunis, Pondok Pesantren. SLB
Yaketunis aktif mengikuti lomba dan kegiatan ketalentaan sekolah, salah satu
siswanya juga ada yang menyandang Juara II di olimpiade matematika penyandang
cacat tingkat Nasional.
2. Panti
Sosial Tresna Werdha
a. Sejarah
Berdirinya Panti Sosial Werdha
Balai
Pelayanan Sosial Tresna Werdha (BPSTW) Yogyakarta berdiri dengan dasar
operasional Perda DIY No. 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas
Daerah DIY dan Pergub DIY No. 44 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi
Dinas dan UPT pada Dinas Sosial DIY. Pada awalnya lembaga sosial manula
tersebut bernama Panti Sosial Tresna Werdha atau disingkat PSTW. Namun kemudian
namanya berubah menjadi Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha atau yang
disingkat BPSTW.
b. Kondisi Panti Sosial Tresna Werdha saat ini
Panti Sosial Tresna Werdha
(PSTW) Yogyakarta adalah Panti Sosial yang mempunyai tugas memberikan
bimbingan dan pelayanan bagi lanjut usia terlantar agar dapat hidup secara baik
dan terawat dalam kehidupan masyarakat baik yang berada di dalam panti maupun
yang berada di luar panti. PSTW sebagai lembaga pelayanan sosial lanjut usia
berbasis Panti yang dimiliki pemerintah dan memiliki berbagai sumberdaya perlu
mengembangkan diri menjadi Institusi yang progresif dan terbuka untuk
mengantisipasi dan merespon kebutuhan lanjut usia yang terus meningkat.
PSTW Yogyakarta sebagai Unit
Pelaksana Teknis Daerah sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor : 6 Tahun 2008 Jo
Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 44 Tahun 2008 tentang
Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Prov.
DIY, yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada lanjut usia.
PSTW Yogyakarta diharapkan mampu mengembangkan komitmen dan kompentensinya
dalam memberikan pelayanan sosial yang terstandarisasi dengan mengacu kepada
Kepmen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Nomor 193/Menkes Kesos /III/2000
tentang Standarisasi Panti Sosial, yang telah direvisi dengan Kepmen Sosial RI
Nomor 50/Huk/2004, sekaligus mengakomudasi potensi lokal di daerah.
Pada saat ini PSTW Yogyakarta mempunyai 2 (dua) Unit yaitu
PSTW Yogyakarta Unit Abiyoso di Pakem Kab. Sleman dan PSTW Yogyakarta Unit Budi
Luhur Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan Bantul.
D. Studi
Kasus
Dalam kegiatan
ini banyak sekali kami temukan kasus – kasus menarik. Diantaranya, penyesuaian
diri di sekolah inklusi, masa pubertas dalam keterbatasan penglihatan,
konformitas di lingkungan penyandanag disabilitas, kesepian pada lansia,
insomnia pada lansia, lansia yang ditinggalkan keluarganya dan kasus terakhir
yang menarik perhatian kami adalah tentang seorang remaja putri yang mengalami kebutaan
tidak sejak lahir.
Subjek bernama SF adalah
remaja yang mengalami tunanetra sejak usia 5 tahun. Awalnya subjek tidak
menerima bahwa ia tidak dapat melihat, Sejak saat itu SF merasa sangat depresi
dan terpuruk, ia tetap mencoba ingin bisa belajar naik sepeda dan akhirnya
terjatuh beberapa kali. SF masih belum menerima bahwa dirinya sudah tidak dapat
melihat lagi. Saat SF masuk sekolah umum, ia kurang diterima dengan baik oleh
beberapa temannya dengan ejekan. Akhirnya SF memutuskan masuk di pondok
pesantren yang siswanya semua tunanetra. Disitulah kepercayaan diri SF tumbuh
kembali, ia sadar bahwa keterbasan yang ia miliki tidak menjadikan ia
tergganggu aktivtasnya.
Melalui subjek SF ini kami
mendapat pelajaran mengenai konsep diri positif yang mempengaruhi penerimaan
diri. Penerimaan diri merupakan sikap
menerima seluruh keadaan diri terhadap masa lalu dan kehidupan
sekarang baik fisik maupun non fisik yang ada pada diri tanpa syarat. Salah
satu faktor yang mempengaruhinya adalah konsep diri positif, konsep diri positif yaitu pandangan dan perasaan
individu tentang dirinya sendiri yang dapat bersifat psikologis, sosial dan
fisik (Brooks).
Menurut kami SF sudah
memiliki penerimaan diri yang baik. Ini dibuktikan dengan SF tidak pernah
mengeluh dengan keadaannya saat ini, SF juga cepat beradaptasi dengan
lingkungan sekolahnya yang tergolong dalam sekolah formal. SF juga berprestasi
dibidang yang iya gemari yaitu ilmu tafsir hadist. SF juga memperlihatkan
sebagai pribadi yang mudah bergaul dan berani mengungkapkan pendapat.