Minggu, 14 Januari 2018


LAPORAN KEGIATAN MATA KULIAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
DI SLB YAKETUNIS DAN PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA



FAKULTAS PSIKOLOGI
UNVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA


A.  Latar Belakang Kegiatan
Di era sekarang mahasiswa dituntut untuk dapat lebih aktif dalam menjalankan tri dharma perguruan tinggi, sebagai bentuk pengaplikasian ilmu yang didapat selama pembelajaraan didalam kelas. Mahasiswa seharusnya memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar sebagai bukti bahwa mahasiswa berintegritas dalam ilmu yang didapat.
Salah satu bentuk kegiatan  yang dapat dilakukan adalah mengunjungi tempat-tempat yang mendukung program keilmuan yang sedang mereka jalani. Sebagai contoh dalam mata kuliah psikologi perkembangan 2, mahasiswa diwajibkan berinteraksi dengan berberapa tahapan usia manusia untuk lebih memahami perkembangannya.
Untuk dapat memenuhi kegiatan tersebut, kami mengunjungi dua tempat yang dapat menunjang kegiatan kami tersebut. Pertama, kami mengunjungi SLB Yaketunis Yogyakarta dan kedua mengunjungi Panti Sosial Tresna Werdha di Pakem Sleman.
Kegiatan ini akan berlangsung secara periodik dan kami jalankan sesuai dengan kemampuan maksimal kami. Kegiatan ini juga menjelma menjadi sebuah jembatan antara kepedulian kami, sebagai mahasiswa terhadap mereka yang membutuhkan dorongan emosi.

B.  Tujuan Kegiatan
1.      Memberikan motivasi dan semangat untuk terus berprestasi bagi siswa di SLB Yaketunis.
2.      Mengembangkan empati, rasa cinta kasih dan rasa peduli terhadap lansia dan penyandang disabilitas.

3.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan 2.

C.  Hasil Observasi
1.      SLB Yaketunis
a.    Sejarah Singkat Yaketunis
Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam didirikan berdasarkan Firman Alloh SWT dalam Al-Qur’an Surat ‘Abasa ayat 3 dan 4 yang menjelaskan bahwa tunanetra memiliki potensi untuk diberikan pendidikan dan pengajaran dibidang mental, spiritual, agama dan ketrampilan, kecerdasan serta ilmu pengetahuan sehingga perlu didirikan lembaga atau yayasan sebagai sarana atau wadah untuk melaksanakan dan mengamalkan ayat tersebut.
Berdirinya Yaketunis merupakan ide dari seorang tunanetra bernama Supardi Abdusomat. Pada saat itu beliau berkunjung ke Perpustakaan Islam di Jl. Mangkubumi No. 38 menemui Bapak H. Moch. Solichin Wakil Kepala Perpustakaan Islam. Kedatangan beliau bermaksud sharing kepada Bapak. H. Moch. Solichin mengenai bagaimana caranya mengangkat harkat martabat warga tunanetra. Akhirnya disepakati untuk mendirikan yayasan yang diberi bnama Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta pada tanggal 12 Mei 1964 dengan alamat : Jl. Mangkubumi No. 38 Yogyakarta, Akta Notaris No. 10 Tahun 1964 Notaris: Soerjanto Partaningrat, SH, dengan ijin operasional No. 188/0622/V.I tanggal 16 Maret 2009.

b.    Kondisi SLB Yaketunis saat ini

SLB Yaketunis memiliki banyak fasilitas yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang hidup selayaknya. Misalnya dengan printer braille, mesin ketik braille, buku braille, hingga Al Qur an braille. Karena fokusnya khusus menangani tuna netra maka SLB ini memiliki beberapa siswa dari luar Yogya, seperti Medan dan Makassar.
Mereka tinggal di asrama fasilitas SLB. Suasana asrama Yaketunis tidak seperti yang dibayangkan kumuh dan kotor namun justru bersih, tertata rapi, segar. Tunanetra yang berada di asrama terlihat bercanda-ria dengan tunanetra sebayanya. Terdapat juga siswa yang melanjutkan kuliah di UGM dan UIN, mereka tinggal di asrama, saat ini menginjak semester 7.  Bangku kuliah memang tidak menyediakan fasilitas khusus bagi tuna netra, maka satu-satu nya cara adalah proaktif dan memperbanyak teman.
Pendidikan di SLB Yaketunis meliputi SLB/A, MTs LB/A, setelah lulus MTs dapat melanjutkan jenjang selanjutnya. Memiliki 32 guru terdiri dari 25 guru Negeri dan 16 guru Yayasan. Sarana dan prasarana yang dimiliki adalah asrama/panti, TPA LB – A Yaketunis, Pondok Pesantren. SLB Yaketunis aktif mengikuti lomba dan kegiatan ketalentaan sekolah, salah satu siswanya juga ada yang menyandang Juara II di  olimpiade matematika penyandang cacat tingkat Nasional.

2.      Panti Sosial Tresna Werdha
a.       Sejarah Berdirinya Panti Sosial Werdha
Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha (BPSTW) Yogyakarta berdiri dengan dasar operasional Perda DIY No. 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah DIY dan Pergub DIY No. 44 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan UPT pada Dinas Sosial DIY. Pada awalnya lembaga sosial manula tersebut bernama Panti Sosial Tresna Werdha atau disingkat PSTW. Namun kemudian namanya berubah menjadi Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha atau yang disingkat BPSTW.

b.      Kondisi  Panti Sosial Tresna Werdha saat ini
Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Yogyakarta adalah Panti Sosial yang mempunyai tugas memberikan bimbingan dan pelayanan bagi lanjut usia terlantar agar dapat hidup secara baik dan terawat dalam kehidupan masyarakat baik yang berada di dalam panti maupun yang berada di luar panti. PSTW sebagai lembaga pelayanan sosial lanjut usia berbasis Panti yang dimiliki pemerintah dan memiliki berbagai sumberdaya perlu mengembangkan diri menjadi Institusi yang progresif dan terbuka untuk mengantisipasi dan merespon kebutuhan lanjut usia yang terus meningkat.
PSTW Yogyakarta sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor : 6 Tahun 2008 Jo Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 44 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Prov. DIY, yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada lanjut usia. PSTW Yogyakarta diharapkan mampu mengembangkan komitmen dan kompentensinya dalam memberikan pelayanan sosial yang terstandarisasi dengan mengacu kepada Kepmen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Nomor 193/Menkes Kesos /III/2000 tentang Standarisasi Panti Sosial, yang telah direvisi dengan Kepmen Sosial RI Nomor 50/Huk/2004, sekaligus mengakomudasi potensi lokal di daerah.
Pada saat ini PSTW Yogyakarta mempunyai 2 (dua) Unit yaitu PSTW Yogyakarta Unit Abiyoso di Pakem Kab. Sleman dan PSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan Bantul.

D.  Studi Kasus
Dalam kegiatan ini banyak sekali kami temukan kasus – kasus menarik. Diantaranya, penyesuaian diri di sekolah inklusi, masa pubertas dalam keterbatasan penglihatan, konformitas di lingkungan penyandanag disabilitas, kesepian pada lansia, insomnia pada lansia, lansia yang ditinggalkan keluarganya dan kasus terakhir yang menarik perhatian kami adalah tentang seorang remaja putri yang mengalami kebutaan tidak sejak lahir.
Subjek bernama SF adalah remaja yang mengalami tunanetra sejak usia 5 tahun. Awalnya subjek tidak menerima bahwa ia tidak dapat melihat, Sejak saat itu SF merasa sangat depresi dan terpuruk, ia tetap mencoba ingin bisa belajar naik sepeda dan akhirnya terjatuh beberapa kali. SF masih belum menerima bahwa dirinya sudah tidak dapat melihat lagi. Saat SF masuk sekolah umum, ia kurang diterima dengan baik oleh beberapa temannya dengan ejekan. Akhirnya SF memutuskan masuk di pondok pesantren yang siswanya semua tunanetra. Disitulah kepercayaan diri SF tumbuh kembali, ia sadar bahwa keterbasan yang ia miliki tidak menjadikan ia tergganggu aktivtasnya.
Melalui subjek SF ini kami mendapat pelajaran mengenai konsep diri positif yang mempengaruhi penerimaan diri. Penerimaan diri merupakan sikap menerima seluruh keadaan diri terhadap masa lalu dan kehidupan sekarang baik fisik maupun non fisik yang ada pada diri tanpa syarat. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah konsep diri positif, konsep diri positif yaitu pandangan dan perasaan individu tentang dirinya sendiri yang dapat bersifat psikologis, sosial dan fisik (Brooks).
Menurut kami SF sudah memiliki penerimaan diri yang baik. Ini dibuktikan dengan SF tidak pernah mengeluh dengan keadaannya saat ini, SF juga cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya yang tergolong dalam sekolah formal. SF juga berprestasi dibidang yang iya gemari yaitu ilmu tafsir hadist. SF juga memperlihatkan sebagai pribadi yang mudah bergaul dan berani mengungkapkan pendapat.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar