Rabu, 04 Juli 2018

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA AWAL




      BAB I
PENDAHULUAN  

A.   Latar Belakang Masalah
Masa remaja merupakan  masa individu menyatu dengan masyarakat dewasa, usia remaja tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak (Piaget, dalam Hurlock 1980). Mereka bukanlah anak-anak, baik bentuk badan ataupun cara berfikir dan bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang (Zakiyah Darajat 1990: 23). Permasalahan yang sering terjadi bagi remaja salah satunya adalah masalah yang terkait dengan perilaku merokok. Jika dilihat dari berbagai sudut pandang, bahwa merokok sangat merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Berdasarkan Survey Lentera 2015, sebanyak 45 persen jumlah remaja di Indonesia pada usia 13 hingga 19 tahun sudah merokok (Maulidya, 2016). Jumlahnya meningkat setiap tahun, tidak hanya orang dewasa tetapi sudah merambah anak-anak usia remaja. Berdasarkan data dari badan kesehatan Dunia WHO (world health organization), menyebutkan 1 dari 10 kematian pada orang dewasa disebabkan karena kebiasaan merokok, dimana rokok ini membunuh hamper lima juta orang setiap bulannya. Jika hal ini berlanjut, maka bisa dipastikan bahwa 10 juta orang akan meninggal karena rokok pertahunnya pada tahun 2020, dengan 70% kasus terjadi di Negara berkembang seperti Indonesia. Pada tahun 2005 terdapat 5,4 juta kematian akibat merokok atau rata-rata satu kematian setiap 6 detik. Bahkan pada tahun 2030 diperkirakan jumalh kematian mencapai angka 8 juta. Merokok juga merupakan jalur yang sangat berbahaya menuju hilangnya produktivitas dan hilangnya kesehatan. Menurut tobacco atlas yang diterbitkan oleh WHO, merokok adalah penyebab bagi hamper 90% kanker paru, 75% penyakit paru obsruktif kronis (PPOK), dan juga menjadi 25% penyebab dari serangan jantung (rasti,2008). Perilaku merokok di kalangan remaja meningkat. Koordinator Bali Tobacco Control Innitiative (BTCI) Made Kerta Duana mengatakan perlu dilakukan secara berkelanjutan melakukan sosialisasi tentang resiko dari mengisap rokok. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2010 perilaku merokok pada remaja 15 tahun ke atas cenderung meningkat. Saat ini diperkirakan 36,3 persen remaja Indonesia adalah perokok aktif (Republika.co.id, 2018).
Di masa remaja, banyak individu mencapai tingkat kesehatan, kekuatan, dan energi yang tidak akan pernah mereka nikmati di tahap kehidupan selanjutnya. Mereka juga memiliki keyakinan sebagai sosok unik dan kebal yang tidak akan pernah sakit, atau seandainya  jatuh sakit, mereka akan segera pulih. Tidak mengherankan apabila terdapat banyak remaja yang mengembangkan kebiasaan yang buruk bagi kesehatannya (Santrock, 2007). Banyak jenis perilaku yang dapat membahayakan kesehatan yang cenderung meningkat di masa remaja, salah satunya merokok. Di remaja awal, individu mencari pengalaman yang menciptakan perasaan berintensitas tinggi. Remaja menyukai intensitas, kegembiraan, kegairahan. Masa remaja merupakan sebuah masa mereka sangat tertarik pada seks, obat-obatan, musik yang sangat keras, dan pengalaman-pengalaman berstimulasi tinggi. Masa remaja merupakan sebuah periode perkembangan di mana individu haus untuk berpetualang, menyukai risiko, serta menginginkan sesuatu hal yang baru dan menantang agar secara alamiah dapat mencapai kondisi yang bergejolak (Santrock, 2007). Strategi menaikkan harga rokok merupakan usaha pemerintah dalam membatasi kesempatan para remaja merokok. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi perilaku merokok pada remaja. Secara umum menurt Kurt Lewin (dalam Komasari dan Helmi, 2000), bahwa perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan faktor lingkungan, juga disebabkan faktor-faktor dari dalam individu. Faktor dalam remaja dapat dilihat dari perkembangan remaja yang mulai merokok berhubungan dengan krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangan, ketika mereka sedang mencari jati diri. Dalam masa remaja tersebut, sering disebut sebagai masa badai dan topan karena ketidaksesuaian antara perkembangan psikis dan sosial.  Perilaku merokok pada remaja diduga terkait dengan karakteristik psikologis tertentu yang dimiliki oleh remaja yaitu konsep diri mereka sebagai remaja.
Menurut Mead (Burns,1993) konsep diri sebagai suatu obyek yang timbul di dalam interaksi sosial sebagai suatu hasil perkembangan dari perhatian individu tersebut mengenai bagaimana orang lain bereaksi kepadanya. Konsep diri adalah pengertian dan harapan individu mengenai bagaimana diri yang dicita-citakan yang sesungguhnya secara fisik, sosial, moral dan psikis. Konsep diri merupakan inti pola kepribadian yang akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya (Burns,1993). Sikap, keyakinan dan tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh kepribadiannya, terutama sekali oleh konsep dirinya. Ada lima sumber pembentukan konsep diri menurut Burns (1993), yaitu : (a) citra tubuh, evaluasi terhadap diri fisik sebagai suatu obyek yang jelas-jelas berbeda; (b) bahasa, kemampuan untuk mengkonseptualisasikan dan memverbalisasikan diri dan orang-orang lainnya; (c) umpan balik yang ditafsirkan dari lingkungannya tentang bagaimana orang-orang lain yang dihormatinya memandang pribadi tersebut dan tentang bagaimana pribadi tadi secara relatif ada dibandingkan norma-norma dan nilai-nilai masyarakat yang bermacam-macam; (d) identifikasi dengan model peranan seks yang stereotip yang sesuai; dan (e) praktek-praktek membesarkan anak.
Menurut Strang (Burns,1993) ada empat aspek di dalam konsep diri, yaitu : aspek yang pertama adalah konsep diri dasar, atau persepsi individu mengenai kemampuan-kemampuannya, status dan peranan-peranannya di dunia luar. Hal itu adalah konsepnya tentang pribadi yang dia pikirkan sebagaimana apa adanya. Diri yang fana merupakan aspek keduayang dipegang oleh individu tersebut pada saat sekarang yang dipengaruhi oleh mood pada saat itu. Aspek yang ketiga adalah diri sosial. Inilah diri sebagaimana yang diyakini individu itu yang orang-orang lain melihat dan mengevaluasinya. Aspek yang keempat adalah diri yang ideal. Inilah macam pribadi yang diharapkan individu tersebut menjadi pribadi semacam itu.  Contoh perilaku merokok pada remaja. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dedy pada tahun 2011 terhadap 40 siswa SMK Insan Cendekia, yaitu 15 siswa laki-laki 25 siswa perempuan. Hasil wawancara secara langsung dan data yang diperoleh dari  angket diketahui bahwa 21 siswa atau 52,5 % yang pernah merokok, sedangkan yang belum pernah merokok sebanyak 19 atau 47,5%. Peneliti mendapati dua alasan pertama kali mereka merokok, yaitu sebagian besar karena penasaran atau sekedar coba-coba dan satu orang karena depresi. Masa remaja juga merupakan periode penting risiko untuk pengembangan perilaku merokok jangka panjang. Selain itu, perilaku merokok merupakan pintu masuk perilaku negative yang lain seperti penyalahgunaan narkotika dan minum-minuman keras (Rachmat, 2013).
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA AWAL”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar