BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Masa remaja merupakan masa
individu menyatu dengan masyarakat dewasa, usia remaja
tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada
dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak (Piaget, dalam
Hurlock 1980). Mereka bukanlah anak-anak, baik bentuk
badan ataupun cara berfikir dan bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang
telah matang (Zakiyah Darajat 1990: 23). Permasalahan yang sering terjadi bagi
remaja salah satunya adalah masalah yang terkait dengan perilaku merokok. Jika
dilihat dari berbagai sudut pandang, bahwa merokok sangat merugikan bagi diri
sendiri maupun orang lain.
Berdasarkan Survey Lentera 2015,
sebanyak 45 persen jumlah remaja di Indonesia pada usia 13 hingga 19 tahun
sudah merokok (Maulidya, 2016). Jumlahnya meningkat setiap tahun, tidak hanya
orang dewasa tetapi sudah merambah anak-anak usia remaja. Berdasarkan data dari
badan kesehatan Dunia WHO (world health organization), menyebutkan 1 dari 10
kematian pada orang dewasa disebabkan karena kebiasaan merokok, dimana rokok
ini membunuh hamper lima juta orang setiap bulannya. Jika hal ini berlanjut,
maka bisa dipastikan bahwa 10 juta orang akan meninggal karena rokok pertahunnya
pada tahun 2020, dengan 70% kasus terjadi di Negara berkembang seperti
Indonesia. Pada tahun 2005 terdapat 5,4 juta kematian akibat merokok atau
rata-rata satu kematian setiap 6 detik. Bahkan pada tahun 2030 diperkirakan
jumalh kematian mencapai angka 8 juta. Merokok juga merupakan jalur yang sangat
berbahaya menuju hilangnya produktivitas dan hilangnya kesehatan. Menurut
tobacco atlas yang diterbitkan oleh WHO, merokok adalah penyebab bagi hamper
90% kanker paru, 75% penyakit paru obsruktif kronis (PPOK), dan juga menjadi
25% penyebab dari serangan jantung (rasti,2008). Perilaku merokok di kalangan
remaja meningkat. Koordinator Bali Tobacco Control Innitiative (BTCI) Made
Kerta Duana mengatakan perlu dilakukan secara berkelanjutan melakukan
sosialisasi tentang resiko dari mengisap rokok. Berdasarkan data Kementerian
Kesehatan tahun 2010 perilaku merokok pada remaja 15 tahun ke atas cenderung
meningkat. Saat ini diperkirakan 36,3 persen remaja Indonesia adalah perokok
aktif (Republika.co.id, 2018).
Di masa remaja, banyak
individu mencapai tingkat kesehatan, kekuatan, dan energi yang tidak akan
pernah mereka nikmati di tahap kehidupan selanjutnya. Mereka juga memiliki
keyakinan sebagai sosok unik dan kebal yang tidak akan pernah sakit, atau
seandainya jatuh sakit, mereka akan
segera pulih. Tidak mengherankan apabila terdapat banyak remaja yang
mengembangkan kebiasaan yang buruk bagi kesehatannya (Santrock, 2007). Banyak
jenis perilaku yang dapat membahayakan kesehatan yang cenderung meningkat di
masa remaja, salah satunya merokok. Di remaja awal, individu mencari pengalaman
yang menciptakan perasaan berintensitas tinggi. Remaja menyukai intensitas,
kegembiraan, kegairahan. Masa remaja merupakan sebuah masa mereka sangat
tertarik pada seks, obat-obatan, musik yang sangat keras, dan
pengalaman-pengalaman berstimulasi tinggi. Masa remaja merupakan sebuah periode
perkembangan di mana individu haus untuk berpetualang, menyukai risiko, serta
menginginkan sesuatu hal yang baru dan menantang agar secara alamiah dapat
mencapai kondisi yang bergejolak (Santrock, 2007). Strategi menaikkan harga
rokok merupakan usaha pemerintah dalam membatasi kesempatan para remaja
merokok. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi perilaku merokok pada remaja.
Secara umum menurt Kurt Lewin (dalam Komasari dan Helmi, 2000), bahwa perilaku
merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku
merokok selain disebabkan faktor lingkungan, juga disebabkan faktor-faktor dari
dalam individu. Faktor dalam remaja dapat dilihat dari perkembangan remaja yang
mulai merokok berhubungan dengan krisis aspek psikososial yang dialami pada
masa perkembangan, ketika mereka sedang mencari jati diri. Dalam masa remaja
tersebut, sering disebut sebagai masa badai dan topan karena ketidaksesuaian
antara perkembangan psikis dan sosial. Perilaku
merokok pada remaja diduga terkait dengan karakteristik psikologis tertentu
yang dimiliki oleh remaja yaitu konsep diri mereka sebagai remaja.
Menurut Mead (Burns,1993)
konsep diri sebagai suatu obyek yang timbul di dalam interaksi sosial sebagai
suatu hasil perkembangan dari perhatian individu tersebut mengenai bagaimana
orang lain bereaksi kepadanya. Konsep diri adalah pengertian dan harapan
individu mengenai bagaimana diri yang dicita-citakan yang sesungguhnya secara
fisik, sosial, moral dan psikis. Konsep diri merupakan inti pola kepribadian
yang akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya
(Burns,1993). Sikap, keyakinan dan tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh
kepribadiannya, terutama sekali oleh konsep dirinya. Ada lima sumber
pembentukan konsep diri menurut Burns (1993), yaitu : (a) citra tubuh, evaluasi
terhadap diri fisik sebagai suatu obyek yang jelas-jelas berbeda; (b) bahasa,
kemampuan untuk mengkonseptualisasikan dan memverbalisasikan diri dan
orang-orang lainnya; (c) umpan balik yang ditafsirkan dari lingkungannya
tentang bagaimana orang-orang lain yang dihormatinya memandang pribadi tersebut
dan tentang bagaimana pribadi tadi secara relatif ada dibandingkan norma-norma
dan nilai-nilai masyarakat yang bermacam-macam; (d) identifikasi dengan model
peranan seks yang stereotip yang sesuai; dan (e) praktek-praktek membesarkan
anak.
Menurut Strang (Burns,1993) ada empat aspek di
dalam konsep diri, yaitu : aspek yang pertama adalah konsep diri dasar, atau
persepsi individu mengenai kemampuan-kemampuannya, status dan
peranan-peranannya di dunia luar. Hal itu adalah konsepnya tentang pribadi yang
dia pikirkan sebagaimana apa adanya. Diri yang fana merupakan aspek keduayang
dipegang oleh individu tersebut pada saat sekarang yang dipengaruhi oleh mood pada saat itu. Aspek yang ketiga
adalah diri sosial. Inilah diri sebagaimana yang diyakini individu itu yang
orang-orang lain melihat dan mengevaluasinya. Aspek yang keempat adalah diri
yang ideal. Inilah macam pribadi yang diharapkan individu tersebut menjadi
pribadi semacam itu. Contoh perilaku
merokok pada remaja. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dedy pada tahun
2011 terhadap 40 siswa SMK Insan Cendekia, yaitu 15 siswa laki-laki 25 siswa
perempuan. Hasil wawancara secara langsung dan data yang diperoleh dari angket diketahui bahwa 21 siswa atau 52,5 %
yang pernah merokok, sedangkan yang belum pernah merokok sebanyak 19 atau
47,5%. Peneliti mendapati dua alasan pertama kali mereka merokok, yaitu
sebagian besar karena penasaran atau sekedar coba-coba dan satu orang karena
depresi. Masa remaja juga merupakan periode penting risiko untuk pengembangan
perilaku merokok jangka panjang. Selain itu, perilaku merokok merupakan pintu
masuk perilaku negative yang lain seperti penyalahgunaan narkotika dan
minum-minuman keras (Rachmat, 2013).
Berdasarkan
latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul “HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN
PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA AWAL”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar